
12-04-2009
|
 |
Indra YS
Lagi nggak ada selera ngegas
Bye-bye GAS
Montir Global Bengkel Musik
Nama: Indra Siregar
|
|
Join Date: Apr 2007
Location: South Jakarta
Posts: 2,410
Thanks: 27
Thanked 63 Times in 45 Posts
Nominated 0 Times in 0 Posts
Kontes Topik Mingguan Award : 0
Rep Power: 68
Reputation: 1310
        
|
|
|
There's No Business Like Showbiz
Old article, tahun 2004 tp masih berguna untuk bahan referensi
sumber: klik disini
There's No Business Like Showbiz
"TIKET tribun tengah sold out!" Demikian isi pesan singkat (SMS) yang datang dari Adrie Subono, Chairman Java Musikindo, salah satu promotor konser di Tanah Air. Tiket yang dimaksud adalah untuk pertunjukan Mariah Carey, 15 Februari.
Bahwa tiket kelas itu terjual habis seminggu sebelum konser adalah fakta cukup mengejutkan. Pasalnya, kelas itu adalah yang paling mahal dari semua kelas yang disediakan. Harganya Rp 1,75 juta, dan menjadikannya tiket konser paling mahal yang pernah dijual dalam sejarah Java Musikindo selama hampir satu dekade.
Dua tribun lainnya, yang disebut tribun kiri dan kanan, ditawarkan dengan harga Rp 1,35 juta. Yang termurah ialah tiket kelas festival, Rp 500.000. Total jenderal, Java menyediakan 1.700 tempat duduk untuk konser diva asal Amerika Serikat itu.
Mariah Carey bukan satu-satunya artis asing yang menyambangi Jakarta. Sebelumnya, Jakarta diguncang Korn, kelompok nu metal asal Amerika Serikat, 5 Februari. Konser yang digelar di areal Pekan Raya Jakarta, Kemayoran, itu dihadiri sekitar 8.000 penonton. Konser Korn adalah pertunjukan musik cadas pertama setelah lebih dari satu dasawarsa lalu, ketika Metallica tampil di Stadion Lebak Bulus dan menimbulkan kerusuhan besar.
Sesudah Korn membombardir telinga penikmat konser Jakarta, giliran kelompok Toto naik panggung. Dalam tur bertajuk "25th Anniversary" itu, Toto tampil di Stadion Tertutup Senayan pada 9 Februari. Penontonnya pun melimpah, dan tak henti-henti melantunkan bait-bait refrain tembang hit Toto.
Dua hari setelah Toto, satu lagi kelompok cadas berjingkrak, Helloween, yang tampil di pantai Taman Impian Jaya Ancol. Rangkaian konser artis luar negeri ini akan ditutup Brian McKnight pada 19 Februari.
Lima artis dalam satu bulan! "Baru kali ini terjadi," ungkap Tommy Pratama, pemilik Original Production, promotor yang mendatangkan Toto. Hebatnya lagi, kelima artis tadi didatangkan empat promotor berbeda. Selain Original, Java Musikindo membawa Korn dan Mariah Carey. Garuda Dua --gabungan antara Nepathya, Log Zhelebour, dan Mata Elang-- mendatangkan Helloween. Sedangkan Lunar Entertainment mengusung Brian McKnight.
Sebagai pembanding, tahun lalu barangkali hanya Java Musikindo yang gencar mengadakan konser. Itu pun dalam konteks satu konser tiap bulan. Pada Januari 2003, misalnya, Java menggelar konser Suede. Bulan berikutnya tampil Ronan Keating.
Blue seharusnya tampil Maret, namun batal. April 2003, Java menghadirkan kelompok Las Ketchup. Tahun itu, Java menutup kegiatan konsernya pada bulan Mei dengan penampilan Spirit of the Dance.
Nah, kalau dalam satu bulan ini saja sudah banyak promotor yang menguji pasar dengan artis-artis asingnya, sejumlah pertanyaan pun menyembul. Apakah karena akan adanya agenda pemilihan umum (pemilu), maka mereka seakan menggeber kegiatan?
Tommy Pratama menampik alasan tersebut. "Kedatangan artis asing tidak disiapkan dalam waktu singkat," katanya. Kegiatan korespondensi, tawar-menawar honor, penandatanganan kontrak, menjalin kerja sama dengan sponsor, dan sejumlah pekerjaan lainnya dimulai beberapa bulan sebelumnya. "Kalau hari konsernya kebetulan ada di bulan yang sama, itu karena jadwalnya saja," Adrie Subono menambahkan.
|

12-04-2009
|
 |
Indra YS
Lagi nggak ada selera ngegas
Bye-bye GAS
Montir Global Bengkel Musik
Nama: Indra Siregar
|
|
Join Date: Apr 2007
Location: South Jakarta
Posts: 2,410
Thanks: 27
Thanked 63 Times in 45 Posts
Nominated 0 Times in 0 Posts
Kontes Topik Mingguan Award : 0
Rep Power: 68
Reputation: 1310
        
|
|
|
Bahkan, untuk menyiapkan kedatangan Mariah Carey, misalnya, Java Musikindo harus lebih dulu "menjamu" manajer produksi artis seksi ini. Si manajer datang khusus tiga minggu menjelang hari-H untuk memastikan bahwa Java, dan seluruh elemen yang dibutuhkan untuk konser Carey, siap dan sempurna.
Lantas, apa alasan di balik banyaknya artis asing yang datang itu? "Cari untung, dong," kata Adrie Subono. Ada tidaknya pemilu, lanjutnya, tak lantas membuat promotor menggeber seluruh kegiatan. "Toh, sesudah pemilu masih banyak waktu tersedia buat kami," katanya.
Menurut Adrie, selama artis masih membuat album rekaman, waktu penyelenggaraan konser mereka tak akan pernah jauh dari saat karya mereka dilepas ke pasar. Di situ pula peluang bisnis pertunjukan terbuka lebar. Kaki artis, Adrie melanjutkan, berada di dua kutub berbeda. "Satu di perusahaan rekaman, satu lagi di promotor," katanya.
Kalau bulan ini menciptakan satu prestasi sendiri dalam hal jumlah show artis asing, Log Zhelebour melihat fenomena ini sudah ada sejak 2000. Yaitu ketika pemerintahan Presiden Gus Dur memangkas sejumlah prosedur dan birokrasi perizinan yang jelimet. "Dulu kami ditekan. Untuk satu izin saja kadang harus melalui 20 meja," kata Log mengenang.
Uang siluman yang wajib diselipkan membuat sejumlah promotor kembang-kempis dan enggan berkiprah. Kini, lanjut Log, duit mati tadi bisa dialokasikan untuk menyelenggarakan sebuah pertunjukan musik. Tak hanya promotor artis asing yang bergerak. Promotor artis lokal, baik yang ada di Ibu Kota maupun daerah, ikut pula merasakannya.
Pemicu seperti ini dibutuhkan karena potensi pasarnya sangat besar. Tommy Pratama mengambil jumlah penduduk Jakarta, yang 13 juta jiwa, untuk memperjelas argumentasinya. "Bila dari angka tadi ada 1.000 orang saja yang punya keinginan menonton konser, maka jumlah itu sudah signifikan sebagai pasar," katanya.
Dari kacamata promotor daerah, potensi bisnis pertunjukan musik ini juga masih menjanjikan. "Masyarakat masih haus dengan pertunjukan musik yang sifatnya massif," kata Imam Raharjo, bos DAS Communication, event organizer musik terbesar di Jawa Tengah, kepada Imung Yuniardi dari GATRA.
Pendapat Harry Koko, pimpinan Deteksi Production, senada dengan Imam. Bersama krunya, Harry sudah menggelar konser di 800 kota besar dan kecil di Tanah Air. Di tiap konsernya, Deteksi selalu sukses menghadirkan ribuan penonton. "Bisa dibilang kami ini spesialis tur," katanya. Di awal berdirinya, 1995, Deteksi sudah melakukan tur di 21 kota. Pekan ini, Deteksi sedang memboyong Slank dan Naif ke 55 kota.
|

12-04-2009
|
 |
Indra YS
Lagi nggak ada selera ngegas
Bye-bye GAS
Montir Global Bengkel Musik
Nama: Indra Siregar
|
|
Join Date: Apr 2007
Location: South Jakarta
Posts: 2,410
Thanks: 27
Thanked 63 Times in 45 Posts
Nominated 0 Times in 0 Posts
Kontes Topik Mingguan Award : 0
Rep Power: 68
Reputation: 1310
        
|
|
|
Seberapa besar mereka bisa meraup keuntungan dari bisnis ini? "Untungnya bisa sampai Rp 1 milyar," kata Adrie Subono. Angka serupa disampaikan Tommy Pratama. Triknya, lanjut Tommy: efisiensi.
Harus dicatat, keuntungan yang diraih Adrie dan Tommy itu adalah dari sebuah pertunjukan semalam saja. Bagaimana dengan promotor artis lokal? Pengalaman Log Zhelebour bisa menjadi pembanding. Untuk sebuah paket tur ke tiga hingga lima kota, Log mengaku bisa mengantongi keuntungan sebesar Rp 1 milyar.
Log termasuk promotor yang lebih banyak mencurahkan tenaganya untuk show artis lokal. "Artis asing cuma selingan," katanya. Makanya, untuk memperbesar keuntungan, Log melakukan investasi. Sampai saat ini, ia mengaku sudah mengeluarkan Rp 500 juta untuk membeli sejumlah peralatan dan perlengkapan pertunjukan. "Investasi itu sudah terbayar dari keuntungan konser yang ada," katanya.
Harry Koko sedikit diplomatis menyebut angka keuntungannya. Ia memberi permisalan. Misalnya, untuk sebuah konser yang membutuhkan dana Rp 100 juta, di mana 60%-nya ditalangi sponsor, maka ia hanya perlu modal Rp 40 juta. Dengan perkiraan penonton sebanyak 5.000 orang, dan tiket dijual dengan harga Rp 20.000, Harry memperoleh pemasukan Rp 100 juta.
Pemasukan dari tiket ini akan dipotong pajak tontonan, yang rata-ratanya sekitar 25%. Artinya tersisa Rp 75 juta. "Jadi, keuntungan kami dari tiap konser Rp 35 juta," katanya. Maka, bila penonton makin banyak, dan konser tidak hanya dilakukan di satu tempat, Harry bisa menangguk untung banyak. Boleh juga!
Pertanyaan logis berikutnya: kalau rugi, bisa sampai berapa duit? Keuntungan dan kerugian, menurut Adrie Subono, kansnya sangat tipis. Menurut Tommy Pratama, dari empat hingga lima kali show, potensi kerugian ada pada satu-dua konser. "Tapi kerugian tadi bisa ditutupi oleh konser sisanya," katanya.
Bisa saja sebuah konser yang telah disiapkan dengan matang gagal digelar karena sejumlah sebab. Misalnya larangan berkunjung oleh pemerintah negara asal sang artis. Ini terjadi pada Original Production, yang gagal mementaskan Limp Bizkit hanya seminggu sebelum hari-H.
Gagal manggung bisa juga terjadi karena sebab yang masuk kategori force majeure, seperti merebaknya wabah infeksi saluran pernapasan sangat akut (SARS). Bahkan ada artis yang menolak manggung ketika pada hari-H turun hujan (biasanya untuk pertunjukan terbuka). Makanya, untuk mengantisipasi kerugian itu, promotor biasanya mengasuransikan kegiatan konsernya.
|

12-04-2009
|
 |
Indra YS
Lagi nggak ada selera ngegas
Bye-bye GAS
Montir Global Bengkel Musik
Nama: Indra Siregar
|
|
Join Date: Apr 2007
Location: South Jakarta
Posts: 2,410
Thanks: 27
Thanked 63 Times in 45 Posts
Nominated 0 Times in 0 Posts
Kontes Topik Mingguan Award : 0
Rep Power: 68
Reputation: 1310
        
|
|
|
Lantas, berapa total biaya yang harus dikeluarkan para pengusaha bisnis pertunjukan sebelum sampai pada keuntungan? Adrie Subono menyebut angkanya tak lebih tinggi dari harga sebuah sedan BMW seri 5 terbaru. Tommy Pratama sedikit lebih gamblang, yaitu Rp 1,5 milyar sampai Rp 2 milyar. "Makin terkenal dan legendaris artisnya, makin mahal pula biayanya," tutur Tommy.
Log Zhelebour memberi angka Rp 300 juta-Rp 500 juta untuk menggelar konser artis lokal di kota-kota besar. Untuk kota kecil, biayanya paling banyak Rp 300 juta. Dari dana sebanyak itu, 25% dialokasikan untuk membayar honor artis. Sisanya untuk biaya produksi. "Perbandingannya terbalik ketika kami menggelar konser artis asing," ujar Log.
Biaya produksi tadi bisa bertambah akibat sejumlah sebab. Misalnya tempat pertunjukan (venue). Venue yang sering dipakai promotor adalah Jakarta Convention Center, Istora Bung Karno, dan Stadion Tenis Tertutup Senayan. Untuk kebutuhan pentas terbuka, Parkir Timur Senayan, Arena Pekan Raya Jakarta, dan Stadion Lebak Bulus menjadi pilihan.
Tapi seluruh venue itu tidak khusus dibangun untuk pertunjukan musik. Akibatnya, promotor kadang terpaksa bersaing dengan kegiatan nonmusikal lainnya, seperti pernikahan, pameran, bahkan wisuda. Uang sewa venue ini bisa mencapai ratusan juta rupiah per hari --minimal dibutuhkan waktu dua hari untuk menyiapkan dan membongkar panggung.
Di luar Jakarta, persoalan venue juga menjadi momok. Imam Raharjo mengeluhkan tak adanya gedung tertutup yang pas untuk pertunjukan musik. "Gelanggang olahraga yang dulu ada di Semarang sekarang malah dijual," kata Imam.
Bens Leo, pengamat musik, membandingkan kondisi sekarang dengan era 1970-an. Di masa itu, kata Bens, Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki, Jakarta, adalah venue pilihan, dan bahkan menjadi salah satu barometer pertunjukan musik. "Jika belum main di sana, gengsi sebuah band belum tinggi," kata Bens Leo, seraya menyebut panggung pertama God Bless adalah di tempat itu.
Selain venue, promotor juga harus bisa mendapatkan peralatan dan perlengkapan pertunjukan yang sesuai dengan keinginan artis. Sering terjadi promotor harus menghubungi perusahaan penyedia (biasa disebut supplier) peralatan dan perlengkapan panggung di luar negeri. Pasalnya, permintaan artis demikian rinci, dan mereka terbiasa menggunakan peralatan dan perlengkapan yang ada di negara masing-masing.
Seiring dengan makin tingginya frekuensi konser di sini, supplier lokal tertantang untuk meremajakan barang-barang mereka. Saat ini, misalnya, ada supplier yang memiliki peranti pengatur tata lampu canggih, yang di negara tetangga seperti Singapura saja tak ada.
Carry Nadeak, Arief Ardiansyah, Asmayani Kusrini, Bambang Sulistiyo, Marya Onny, dan Rini Angraini(Laporan Khusus, GATRA, Edisi 14 Beredar Jumat 13 Februari 2004)
|

16-04-2009
|
 |
speakloud
Ayo lebih bergairah!!!!
Gold record!
Montir Bengkel Musik
Nama: Santang Lesmana
|
|
Join Date: Aug 2008
Location: Jakarta
Posts: 1,173
Thanks: 108
Thanked 21 Times in 16 Posts
Nominated 0 Times in 0 Posts
Kontes Topik Mingguan Award : 0
Rep Power: 30
Reputation: 494
   
|
|
|
Sebentar,
ada bedanya show artis luar dan local
Show artis luar, kebanyakan indoor dan bertiket, + sponsor, ya so pasti kemungkinan besar untung
setau gua (mudah2 an ga sotoy) kalo deteksi production yang di bilang spesialis tur (eq: soundrenaline), aja biasanya puluhan ribu, tapi harga tiket gakan lebih dari 50 rebu per tiket karena biasanya show artis lokal memang di tujukan seperti kampanye pemilu :
kumpulkan masa sebanyak2 nya untuk liat gimmick /brand image si sponsor
kalo bisa ticketless alias gratis. Hanya Gigi mungkin yang berani sponsorless dan pasang harga tiket tinggi untuk konser 11 januari di jogja, jadi mereka manggung bebas berexpresi tanpa di bebani pesan sponsor, dan fans yang datang benar2 fans fanatik yang rela bayar tiket mahal tanpa di subsidi sponsor. para fans gigi bebas nonton pertunjukan yang bener2 musik tanpa di jejali "cuci otak" pesan2 sponsor dan image yang kadang ga nyambung dengan tema show.
itu setahu gua guys, yang lain?
|

06-05-2009
|
|
niki
sedang tidak punya status...
Artis potensial
Nama: niki wonoto
|
|
Join Date: Jan 2009
Posts: 195
Thanks: 70
Thanked 0 Times in 0 Posts
Nominated 4,294,967,295 Times in 4,294,967,295 Posts
 Kontes Topik Mingguan Award : 1
Rep Power: 9
Reputation: 51
|
|
lanjutin dongg bahas ini topik
keren abis soalnya!
|

06-05-2009
|
 |
misteriousart
Living is easy with eyes closed, Missunderstanding
all you see...
Artis nasional
Nama: Iman Putra Fattah
|
|
Join Date: Aug 2008
Location: jakarta
Posts: 594
Thanks: 27
Thanked 26 Times in 16 Posts
Nominated 0 Times in 0 Posts
Kontes Topik Mingguan Award : 0
Rep Power: 24
Reputation: 463
   
|
|
Quote:
Originally Posted by speakloud
kalo bisa ticketless alias gratis. Hanya Gigi mungkin yang berani sponsorless dan pasang harga tiket tinggi untuk konser 11 januari di jogja, jadi mereka manggung bebas berexpresi tanpa di bebani pesan sponsor, dan fans yang datang benar2 fans fanatik yang rela bayar tiket mahal tanpa di subsidi sponsor. para fans gigi bebas nonton pertunjukan yang bener2 musik tanpa di jejali "cuci otak" pesan2 sponsor dan image yang kadang ga nyambung dengan tema show.
|
ada lagi konser besar tanpa sonsor perusahaan satu pun juga apakah itu rokok, etc.
Mick Jagger di Jakarta tahun 1988.
|
|
Currently Active Users Viewing This Thread: 1 (0 members and 1 guests)
|
|
|
| Thread Tools |
|
|
| Display Modes |
Linear Mode
|
Posting Rules
|
You may not post new threads
You may not post replies
You may not post attachments
You may not edit your posts
HTML code is Off
|
|
|
All times are GMT +7. The time now is 01:53.
|